Kamis, 04 Juni 2015

cerita misteri di Gunung Lawu



Ini terjadi pada awal tahun 2008. Ketika itu aku menjadi pemimpin regu dari 4 orang termasuk diriku. 3 orang peserta pendakian kali ini adalah teman sepekerjaanku. Mereka termasuk pemula yang tertarik mendaki gunung. Sejak awal , pendakian kali ini memang terkendala sesuatu. Seolah gunung lawu enggan di kunjungi oleh kami berempat. Awalnya mencari bus ke Solo dari Semarang memang mudah saja walau waktu itu kita berempat memang sudah kesorean dari semarang. Sesampai di terminal Solo kami berempat baru menyadari dan tahu kalau bus menuju Tawangmangu telah berhenti beroperasi mulai menjelang maghrib. Waduh ini hambatan pertama. Lalu sebagai ketua regu akupun berinisiatif bertanya tentang angkutan lain menuju Tawangmangu. Setelah tanya sana sini , sedikit pencerahan kutemukan. Untuk menuju ke Tawangmangu , kita-kita harus naik angkot ke Karang pandan. Dari Karang pandan bisa naik ojek. Akhirnya karena waktu memang sudah semakin malam kamipun naik angkot ke karang pandan.


Singkat cerita kami berempatpun tiba diperempatan Karang pandan. Sialnya lagi , ojeknya gak ada. Mereka semua seperti menghilang di telan bumi..hadeeehhh...di tengah ramai lalu lalangnya kendaraan kami cukup lama menunggu di perempatan ini. Lalu muncul ide dari salah satu temanku untuk mencari tumpangan. Kami pun berusaha melambai pada truk-truk sayur yang memang dari tadi banyak melintas didepan kami...dan alhamdulillah sebuah truk sayur tanpa muatanpun berhenti didepan kami. Setelah memastikan arah tujuan truk ini , kamipun naik dengan suka cita..hahaha
Namun truk ini ternyata hanya sampai di atas Tawangmangu. Dan menurut pak sopir jam segitupun angkutan menuju ke Cemoro Sewu dari Tawangmangu-pun tidak beroperasi lagi...helllleeeeehhhh....terus piye kieeee...tapi kamipun tak ambil pusing. Yang terpenting sampai Tawangmangu dulu!!!truk sayurpun akhirnya sampai dirumah bapak sopir. Kamipun turun setelah mengucapkan terima kasih.


Nah ini dia nehhh...karena tak ada angkot , yaaa mau bagaimana lagi....kamipun akhirnya menuju ke Cemoro Sewu jalan kaki...ampun bokkkk...jalannya nanjak dan gelap tanpa penerangan walaupun sudah beraspal...tapi kami berempat tetap enjoy , karena terasa benar-benar menyenangkan walaupun penuh perjuangan. Apalagi pemandangan kota Solo terlihat bergemerlapan bermandikan cahaya disepanjang jalan aspal menuju Cemoro Sewu. Jam 9 malam kami berempat tiba juga di Cemoro Sewu dengan bermandikan keringat..lumayan buat pemanasan...
Setelah mendaftar di base camp , sholat , dan istirahat sebentar ; kamipun langsung mulai mendaki. Semua penuh semangat. Tapiiii...nah ini ada tapinya...menjelang pos 3 salah satu dari temanku mulai kelelahan dan mengajak untuk beristirahat. Ya udah..akhirnya tenda pun didirikan disebuah tanah lapang. Dan masing-masing dari kamipun terlelap di mimpi.
Lagi asik-asiknya bermimpi bertemu cewek cantik , aku dikejutkan dengan suara alaram HP yang menunjukan pukul 3 pagi. Aku langsung membangunkan teman teman yang lain walau mereka semua engan untuk bangun. Dengan mata mengriyip , mereka semua bangun dan mulai mengepack tenda ke tas carrier kembali bersiap untuk sun rise attack sementara aku sibuk membuat mie instan dan kopi. Setelah kelar , kamipun tak membuang waktu dan mulai melanjutkan perjalanan. Menjelang shubuh kami sampai di pos 4. Ada satu keanehan di sini.aneh, banyak burung jalak menghampiri dan hinggap di pohon-pohon sekitar pos 4 seolah menyambut kedatangan kami. Salah satu burung jalak tiba tiba hinggap di jalan setapak menuju puncak. Burung ini dihalau tidak mau terbang menjauh...cuma menyingkir sedikit. Ketika kami hendak melanjutkan perjalanan lagi , burung jalak ini kembali hinggap di jalan didepan kami. Burung ini mulai berjalan meloncat berapa loncatan kemudian berhenti sambil menoleh ke arah kami. Kami pun berjalan , burung jalak ini pun ikut berjalan melompat di depan kami seolah menuntun arah langkah kami. Ketika kami tertinggal jauh , kembali burung ini berhenti dan menoleh ke arah kami berempat. Ketika kami telah dekat , burung jalak inipun kembali berjalan meloncat. Anehhh memang...mengingat burung ini liar. Menjelang pos 5 burung jalak inipun terbang meninggalkan kami. Walau dalam sepanjang perjalanan ke puncak Lawu burung ini masih mengikuti kami dengan terbang dari 1 pohon ke pohon di sepanjang jalur ke puncak. Ada kepercayaan bahwa burung jalak yang ada di Gunung Lawu merupakan penjelemaan patih dari penguasa Gunung Lawu. Kyai Jalak demikian nama patih ini. Suatu kepercayaan diantara para peziarah Gunung Lawu bahwa bila bertemu burung jalak saat menuju puncak Gunung Lawu pertanda suatu keberuntungan dan hajat orang itu akan terkabul....


Setelah melewati Sendang Drajad naik sebentar , akhirnya puncak Hargodumilah pun tergapai. Aku dan temanku tak henti-hentinya bersyukur pada sang kuasa atas keberhasilan kami ini. Tak lupa narsis menjadi agenda wajib di puncak ini. Setelah beristirahat cukup lama. Kamipun akhirnya memutuskan untuk turun dari puncak. Jalur yang di ambilpun kali ini berbeda dengan jalur naik , yaitu lewat jalur Cemoro Kandang. Awalnya kami sempat nyasar ke Telogo Kemuning yang terletak di sebelah timur dari puncak. Tapi atas petunjuk dari mbah-e kamipun mendaki lagi ke puncak dan turun di Sendang Drajad.( mbah yang di maksud di sini orang lho , cuma pakaian yang di kenakan mirip pendekar dan berwarna hitam...jadinya kami pun nenduga beliau salah satu praktisi supranatural yang tengah menjalani ritual di puncak Lawu ini). Di Sendang Drajad ini kami menemukan persimpangan jalur menuju ke Cemoro Kandang. Turun dan turun tanpa masalah. Tapi selepas Sendang Inten , menuju Air Terjun Pringgondani ; kami semua kebelet kencing. Kami berempat kencing di semak-semak sekitar. Selesai melaksanakan hajat , kamipun melanjutkan perjalanan
.

Entah ini perasaan ku saja atau temanku mungkin juga melihat ini. Di atas kami sekelebat bayangan hitam berulang kali melintas atas kami. Aku cuma diam saja tak membicarakan ini dengan teman-teman. Keanehan kembali terjadi setelah kami berempat berjalan beberapa meter. Kali ini bukan diriku saja yang melihat ini tapi teman ku yang lain pun juga melihatnya. Di depan kami , sekitar beberapa meter ; pintu Base Camp Cemoro Kandang terpampang. Kontan kami berempat kegirangan dan berlomba-lomba menuju ke arah gapura. Tapi sungguh aneh...semakin kami mendekat ke pintu gapura ini , kami tak kunjung sampai juga disana. Semakin kami mempercepat langkah kami pintu gapura ini malah semakin menjauh. Sadar akan keanehan ini , aku lantas berteriak dan menyuruh ketiga temanku untuk berhenti. Kami pun berhenti dengan terengah-engah. Nafas masih memburu....kami lantas beristirahat dan aneh...sekali lagi aneh...pintu gapura yang tetlihat di depan mata kami menghilang di gantikan dengan rimbunnya pepohonan. Aku lantas mengutarakan apa yang aku lihat ini kepada teman-temanku barang kali ini cuma khayalanku. Mereka bertiga pun mengatakan telah melihat hal yang sama. Kamipun bengong dan saling pandang. Entah itu apa , kenyataannya kami berempat melihat hal yang sama. Kalaupun itu ilusi masa iya 4 orang bisa mengalami ilusi yang sama. Akupun mulai berpikir , apakah ini ada keterikatanya dengan prilaku kami yang buang air sembarangan tanpa  permisi. Hal ini lantas membuat para penghuni disekitar jalur menjadi terusik. Barangkali pendaki yang tersesat atau jatuh ke jurang mengalami hal yang sama dengan yang kualami. Mereka melihat sesuatu tapi begitu disambangi ternyata ia telah keluar jalur pendakian atau lebih parah ternyata jurang yang dalam yang ada. Untung saja kami tak mengalami hal yang sama dengan mereka dan masih diberi keselamatan. Karena setelah berhenti dan berdoa , kami pun melanjutkan perjalperjalanan dan tiba di basecamp Cemoro Kandang yang ternyata masih jauh dari tempat kami melihat gapura gaib tadi...
Pengalaman ini menjadi hal yang tidak bisa kulupakan dari sekian banyak pengalamanku mendaki gunung. Yang jelas , ada baiknya pula kita tidak sembarang buang air ketika mendaki gunung. Karena sebagaimana manusia , makhluk gaib pun akan marah jika rumah mereka dikencing-i..

Selasa, 03 Februari 2015

Cara Memasak Tumis Daun Pepaya


Daun pepaya terkenal akan rasanya yang pahit walau buahnya memiliki rasa yang manis. Tetapi di balik rasanya yang pahit, daun pepaya memiliki kandungan vitamin yang banyak. Nah kali ini saya akan memberikan tips mengolah daun pepaya agar bila dimasak tak terasa pahit...
Pertama ambilah beberapa daun pepaya segar. Buang batangnya dan ambil bagian daunnya yang berwarna hijau.
Kedua rebuslah 5 liter air dalam panci..  Kalau air sudah mendidih tambahkan lima sendok makan tanah liat kedalam panci. Tanah liat yang saya maksud disini adalah tanah liat yang berasal dari sawah.
Ketiga masukan daun pepaya dan rebus sampai daun pepaya empuk. Setelah empuk angkat dan tiriskan daun pepaya. Setelah itu cucilah hingga daun pepaya bersih dari air rebusan...
Jika dirasa masih pahit, anda bisa menambah jumlah takaran tanah liat yang digunakan...

TUMIS DAUN PEPAYA
Bahan :
1\2 kg daun pepaya rebus
1 ons ebi kering atau udang basah goreng hingga matang
1 cm terasi
2 cm lengkuas
2 lembar daun salam
Kecap secukupnya
Gula secukupnya
Garam secukupnya
Minyak goreng secukupnya

Bumbu iris:
7 buah cabe merah iris miring
5 siung bawang merah iris tipis
3 siung bawang putih iris tipis

Cara memasak :
Siapkan wajan penggorengan diatas kompor. Kemudian tumis terasi dan bumbu iris dengan minyak goreng diatas wajan hingga harum dengan api tak terlalu besar.
Masukan ebi dan aduk hingga bercampur dgn bumbu. Kemudian masukan daun pepaya, lengkuas dan daun salam. Aduk-aduk hingga tercampur. Setelah itu berikan bumbu garam,kecap, dan gula sesuai selera. Tumis daun pepaya siap dihidangkan...

Minggu, 13 November 2011

BAGAIMANA KITA KETIKA DI GUNUNG SEORANG DIRI????

pemandangan dipuncak Gunung Sindoro

Mendaki gunung bagi sebagian orang dianggap aktivitas-nya "orang yang kurang kerjaan". Ngapain ke Gunung yang dingin dan seram. Kenapa sih rela berjalan selama berjam-jam hanya untuk mencapai puncak?.  Tapi bagi sebagian orang yang lainnya ; termasuk saya sendiri , mendaki gunung menjadi agenda wajib yang harus dilakukan minimal 1 tahun sekali. Tapi bagaimana bila disaat anda ingin naik gunung tapi kebetulan tak ada teman yang menemani karena berbagai alasan dan urusan...padahal anda ingin sekali menikmati suasana puncak gunung yang tak tergantikan dimanapun...jawabannya anda pun harus mendaki sendirian kan??
nah bagi kawan yang hendak kegunung seorang diri , saya bagi - bagi sedikit ilmunya ketika kita harus atau terpaksa naik gunung seorang diri. Saya bukan asal ngomong melalui blog saya ini...karena saya sendiri kerap sekali mengalami kondisi seperti diatas dan sudah mendaki banyak gunung seorang diri di pulau jawa nie...( bukan maksudnya sombong lho...hehehee )


pertama kali kita harus punya niat dan keberanian. Karena kalau sudah punya niat dan keberanian : insyallah Yang Maha Kuasa pun akan menuntun jalan kita.


Kedua ; carilah info selengkap - lengkapnya mengenai gunung yang akan kita tuju. Entah itu mengenai jalur , kondisi tanah , kondisi Vegetasi , satwa umum apa yang ada disana , transport menuju kesana , kondisi cuaca disana , tempat tempat yang menyediakan air dan sebagainya. Semakin banyak info yang didapat , semakin besar peluang kita untuk berhasil. (untuk yang satu ini saya rekomendasikan untuk mencari info lewat internet. Banyaknya info yang bervareasi bisa jadi bahan pertimbangan bagi anda.)


Ketiga ; Carilah moment yang tepat...Gunung itu seperti tempat wisata yang pada saat tertentu bisa ramai bisa  juga sepi...Biasanya gunung cenderung ramai pendakian saat musim2 libur...Tapi moment teramai adalah saat tanggal 17 agustus dan musim kemarau...Karena hampir semua gunung pasti banyak acara pendakiannya. Popaliritas dari gunung pun menjadi acuan dari seberapa seringnya gunung dirambah oleh manusia. Alasan kenapa moment yang tepat ini penting adalah ketika gunung cenderung ramai maka tingkat peluang kita bertemu manusia selama pendakian menjadi lebih besar...Dengan begitu kita mengurangi faktor resiko akan bahaya seperti tersesat , menjadi lebih kecil.


Keempat ; Persiapkan mental dan fisik kita....Ingattt!!! Anda di gunung seorang diri , jadi tak ada yang bisa diandalkan selain diri kita sendiri.


Kelima ; Siapkan bekal yang cukup kalo perlu bekal dilebihkan...jangan sampai anda kekurangan logistik yang ujung - ujungnya mengurangi daya tahan fisik anda. Karena fisik yang selalu terjaga mutlak diperlukan.


Keenam ; Bawa perlengkapan mendaki yang cukup lengkap , memadai dan minimalis. Perlengkapan mendaki bagi seorang pendaki adalah nyawanya. Perlengkapan mendaki bisa juga dibilang sebagai alat survival di alam bebas. Bijaksanalah dalam memilih alat - alat mana yang memang perlu dan tidak perlu di bawa. Karena semakin ringan dan minimalis barang bawaan anda semakin ringan langkah anda nantinya.


lereng gunung yang terlihat hijau




Saat di gunung seorng diri pun ada hal-hal yang harus anda perhatikan...
Pertama ; jika anda benar - benar seorang diri dan belum mengenal medan dengan baik , HINDARILAH MENDAKI DI MALAM HARI. Memang benar Mendaki di malam hari memiliki keuntungan terhindar dari panas dan waktu yang relatif terasa singkat...tapi ingatlah...ketika mendaki gunung dimalam hari , faktor resiko bahaya yang didapat menjadi 2 kali lipat bahkan lebih. Anda harus berhadapan dengan bahaya karena jarak visualitas yang berkurang sampai 90% ; mulai dari kedinginan , hewan buas nokturnal (macan dan sebagainya ) , buta jalur karena penglihatan yang terbatas sampai jatuh ke jurang yang dalam. Usahakan untuk mendaki saat langit masih terang dimana jalur dan tanda-tanda arah masih terlihat jelas.


Kedua ; Ikuti petunjuk yang ada , kalopun petunjuk sangatlah jarang...anda bisa mencari tanda - tanda lain...ingatlah slogan ini "PENDAKI SELALU MENINGGALKAN JEJAK"..bisa itu berupa sampah bekas komsumsi , bekas perapian , pohon yang terpotong , rumput yang tampak rusak,kusut dan layu bekas di injak ataupun coretan - coretan dibatu bisa jadi petunjuk dalam usaha anda mencapai puncak. Jangan lupa untuk selalu memeriksa seberapa lamakah jejak - jejak itu ditinggalkan dan dibuat.


Ketiga ; Berjalanlah dengan irama yang teratur dan pasti...pelan pun bukan masalah...karena semakin anda bisa menjaga dan menghemat stamina anda peluang kaki untuk cedera otot atau keram semakin sedikit. Ingatlah kaki adalah modal utama anda ketika digunung seorang diri. Ketika kaki kehilangan fungsi berjalannya , saat itu pula peluang anda berhasil mendekati nol!!!!Bahkan ada kemungkinan nyawa anda terancam.


Keempat ; Tetaplah tenang  dan berpikir rasioanal serta optimis ketika datang suatu masalah. Ketika anda menjadi bingung otomatis pikiran yang jernih akan tertutupi oleh rasa khawatir. Pemecahan dan solusi masalah pun tak kan didapat. Saran saya berhentilah berjalan untuk sejenak dan berdoa kepada yang kuasa (bagi yang muslim sholatlah anda saat mengalami kondisi "Bingung " seperti ini).


Kelima ; Usahakanlah untuk mengingat - ingat jalur yang anda lewati. Entah itu kondisi vegetasinya, tanahnya atau keadaan jalurnya. Dengan begitu anda secara tak langsung telah memiliki peta imajinatif dalam pikiran anda yang bisa dijadikan acuan dalam perjalanan nanti.


Keenam ; Diam itu adalah emas....ingatlah bahwa kita ini layaknya tamu  yang datang berkunjung. Jadi ada kalanya ucapan anda bisa menyinggung "yang tidak terlihat" selama dalam perjalanan. Ada baiknya kita diam dan selalu berkata dalam pikiran saja.Tapi ada baiknya anda banyak mengucap "permisi" ketika lewat suatu tempat di mana anda merasa tidak sendiri atau merinding (bagi anda yang muslim menucap salam layaknya kita bertamu). Biasanya saya selalu membawa player music ketika mendaki gunung seorang diri. Walopun kelihatan sederhana music bisa membuat konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikiran menjadi lebih rileks. 


Ketujuh ; Usahakan untuk tidak mendaki saat musim hujan. Karena dimusim - musim seperti ini gunung cenderung tidak ramah dan kerap terjadi badai. Tetapi bila terpaksa Anda tetap mendaki dimusim hujan seorang diri anda harus pintar - pintar mengambil  celah waktu dimana hujan tidak turun lagi walo cuma sebentar. Perlu diingat hujan digunung  cenderung memiliki pola waktu yang sama dengan hujan dihari sebelumnya.dan perlu diingat pula pada ketinggian diatas 3000 mdpl hujan cenderung jarang terjadi karena posisinya yang sudah diatas awan.


pemandangan dari puncak Gunung Welirang




Begitulah pengalaman yang kudapat selama saya mendaki dipuncak - puncak tertinggi di Jawa. Semoga info ini bisa berguna bagi kawan - kawan sesama pendaki. Jangan takut untuk mendaki gunung seorang diri. Bila anda ingin tahu , Mendaki seorang diri itu sensasinya benar - benar penuh kenangan dan pengalaman yang menarik. Selamat mencoba ......   

Senin, 07 November 2011

BAGAIMANA CARA MENGOLAH KEPALA DAN KAKI KAMBING???


Hari raya Idul Adha memang identik dengan menyembelih kambing, sapi, atau kerbau. Pada hari raya ini tiap muslim didunia merayakannya dengan memasak daging yang mereka peroleh. Entah itu dimasak Gule, Sate, atau Tongseng sekalipun. Kebanyakan yang dimasak adalah bagian yang berdaging...sedangkan bagian lain seperti kepala dan kaki hewan kurban acap kali disepelekan bahkan di buang.
Tapi pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebenarnya bagian kepala dan kaki ini bisa diolah menjadi makanan yang sedap???
Dan taukah anda bahwa bagian kepala ternyata memiliki daging yang cukup banyak bila kita tahu cara mengolahnya???
Berikut ini saya akan memberikan tips bagaimana cara mengolah kepala dan kaki kambing atau sapi yang keras hingga menjadi lunak dan dapat diolah menjadi masakan yang sedap dan enak. Tips ini berdasarkan dari pengalaman ibu saya yang tiap tahunnya; tepatnya Hari Raya Idul Adha, selalu saja mengolah kepala dan kaki kambing. Dan kupikir apa salahnya berbagi ilmu diblog saya yang terhitung baru ini....


Pertama kali yang perlu anda lakukan ketika sudah mendapatkan bagian kepala kambing adalah menghilangkan bulu yang ada disekitar kepala. Caranya adalah dengan membakar kepala kambing diatas bara api yang menyala. Jangan lupa untuk membolak - baliknya agar tidak gosong pada satu bagian pun. Ketelatenan dan kesabaran sangat di butuhkan pada bagian ini....








Kedua; setelah hilang bulu pada seluruh kepala kambing, hilangkan sisa - sisa arang yang menempel di kulit kepala akibat rambut yang terbakar. Caranya adalah dengan mengerik bagian yang terlihat hitam menggunakan pisau dapur sampai terlihat kulit yang sebenarnya... 



Ketiga; setelah kepala kambing tidak lagi berwarna hitam dan terlihat warna yang sebenarnya (umumnya berwarna putih coklat setelah dibakar diatas api----lihat gambar) , jangan lupa untuk mencucinya dengan bersih. Tujuan pencucian ini adalah menghilangkan kotoran sisa - sisa pembakaran dengan tuntas sebelum diolah lebih jauh.





















Keempat; kepala kambing yang sudah bersih ; untuk selanjutnya direbus didalam panci. Lamanya perebusan tergantung pada usia kambing tersebut. Intinya semakin tua usia kambing semakin lama waktu untuk merebusnya. Jika anda bingung dan tak bisa membedakan apakah itu kambing muda atau tua; anda bisa menge-cek-nya dengan cara mengorek dan menekan kulit dari kepala kambing. Jika kulit kepala kambing sudah lunak berarti kepala kambing siap untuk diolah. Sebaliknya bila masih keras, rebus dan cek kembali seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Tujuan perebusan ini adalah supaya kepala kambing menjadi lunak dan mudah untuk diiris - iris. Tapi perlu diingat jika terlalu lunak kepala kambing tak akan enak bila diolah lagi. Intinya adalah kita merebusnya sampai lunak tapi daging maupun kulit masih terasa kenyal bila disentuh (setengah matang)..yaaa... anda bisa mengira - ngira sendirilah....




Kelima; Bila kepala kambing sudah terasa lunak tapi daging maupun kulit masih terasa kenyal bila disentuh, Anda bisa mengiris - irisnya menjadi kecil - kecil; tergantung selera anda, untuk kemudian diolah menjadi berbagai masakan yang lezat dan enak; terserah kemauan anda...


Rica - Rica Kepala Kambing
Cara yang sama bisa dilakukan untuk mengolah kaki kambing...hanya saja tak seperti kepala kambing yang hampir 70% -nya adalah daging; kaki kambinglebih sedikit bagian dagingnya.teksturnya pun tak selunak kepala kambing ( tekstur daging dibagian kaki kambing seperti tekstur kulit kambing yang dimasak --atau orang jawa menyebutnya mirip daging  "KIKIL'').


kaki kambing siap dimasak





Sumber : Ibu suwarti , Ibu saya ; seorang wanita hebat asal Wonogiri.